1735262163458753
Loading...

kesenian Wayang Jawa



KESENIAN WAYANG DALAM MASYARAKAT JAWA
Oleh: Chamami
Nur Said
Taufikur Rohman
ABSTRAK.
Wayang adalah suatu seni budaya yang sangat diminati oleh masyarakat, khususnya Jawa. Baik itu dari anak kecil hingga dewasa. Dalam wayang sendiri mempunyai peran yang sangat disukai oleh masyarakat Jawa, yaitu berupa seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, sastra dan lain-lain. Dalang dalam istilah pewayangan perannya sangat sentral untuk melakukan pertunjukannya dan menghibur masyarakat, pada zaman sekarang istilah wayang sering dakaitkan dengan hiburan masyarakat berupa acara sunatan ataupun nikahan.
Pada zaman dahulu istilah pewayangan belum muncul di kalangan masyarakat pribumi. Sebelum Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu dan Budha telah berkembang dan selama ratusan tahun. Ketika zaman dulu, nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, kedua kepercayaan ini diyakini bahwa roh yang sudah meninggal masih tetap hidup dan benda-benda yang masih mempunyai kekuatan. Roh-roh itu bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Berasal dari zaman animisme dan dinamisme, wayang terus mengikuti sejarah perjalanan bangsa sampai masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Mulai bersentuhan dengan peradaban dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.
Pertunjukannya kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih menarik, Ramayana dan Mahabharata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat.
Wayang juga dikembangkan oleh para wali terutama sunan Kali Jaga yang mana dalam dakwahnya menggunakan metode pewayangan untuk mendekatkan masyarakat jawa agar masuk Islam.
Tokoh-tokoh wayang yang terkenal adalah Pandawa Lima, yakni Arujna, Yudistira, Bima, Nakula, dan Sadewa. Mempunyai sifat yang baik yang selalu disegani oleh tokoh wayang lain. Juga dari kalangan perempuan yaitu Dewi Sambrada, Dewi Srikandi, Dewi Manohara dan yang lain yang mempunyai paras yang anggun dan elok untuk dibayangkan.


I. Pendahuluan
            Sebelum Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu dan Budha telah berkembang dan mendarah daging selama ratusan tahun. Wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan yang telah berkembang. Sulit untuk mencabut suatu kebudayaan yang telah tertanam dengan begitu kuat kemudian diganti dengan kebudayaan yang bernafaskan Islam. Dalam suatu pertunjukan wayang kulit, biasanya menceritakan suatu lakon yang mengungkapkan suatu permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat dan cara penyelesaiannya. Lakon mempunyai maksud dan tujuan cerita yang dimainkan dalam wayang kulit.
Kesenian wayang kulit mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kesenian yang lainnya, kelebihannya adalah karena wayang kulit mempunyai kedudukan dan fungsi yang cukup menonjol dalam kehidupan masyarakat. Dimana wayang kulit dapat digunakan sebagai media pendidikan termasuk didalamnya pendidikan agama, media penerangan dan media hiburan.
            Wayang adalah sebuah seni pertunjukan khas Indonesia yang sudah sangat populer baik itu di dalam atau luar pulau Jawa. Karya seni ini sudah dikenal masyarakat sejak zaman pra sejarah. Kemudian pada saat masuknya pengaruh Hindu dan Budha, cerita dalam wayang mulai mengadopsi kitab Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang oleh para wali digunakan sebagai media dakwah yang tentunya dengan menyisipkan nilai-nilai Islam. Seni pewayangan merupakan perpaduan dari berbagai seni seperti seni musik, seni ukir, seni lukis, kesusastraan, dan falsafah.
II. Sejarah Wayang di Indonesia
A. Definisi Wayang
Wayang adalah salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang paling diminati bangsan Indonesia baik dari kalangan anak-anak dewasa maupun orang tua. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wayang adalah boneka tiruan orang dan lain sebagainya yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan lain sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh di pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dan lain sebagainya), biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang[1].
Wayang sebagai budaya asli Indonesia, banyak disebut oleh sumber-sumber sejarah, terutama dalam prasasti. Prasasti tertua yang memberi informasi pewayangan berasal dari masa pemerintahan Raja Airlangga atau tahun 1500 SM[2], jauh sebelum agama dan budaya dari luar masuk ke Indonesia. Tradisi wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke Bahasa Jawa Kuna, tetapi mengubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa Kuna kedalamnya.
Wayang dalam tradisi masyarakat Indonesia kehadiran wayang yang selalu akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, wayang tampil sebagai seni budaya tradisional, dan merupakan puncak budaya daerah. Wayang yang zaman dahulu berbeda dengan wayang yang zaman sekarang melalui proses dan berkembangnya zaman suatu seni budaya akan berubah sesuai dengan perkembangannya zaman. Budaya adalah pikiran atau akal budi, sesuatu kebudayaan yang sudah berkembang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah[3].
Namun seni wayang tidak bisa terpengaruh terhadap jati dirinya, karena wayang telah memiliki landasan yang kokoh. Landasan utamanaya adalah sifat hamot, hamong, hamemangkat. Ketiga landasan tersebut tidak akan pernah berubah meski digrogoti oleh zaman[4]. Hamot adalah keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam dan luar. Hamong adalah kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru itu sesuai nilai-nilai wayang yang ada, untuk selanjutnya diangkat menjadi nilai-nilai yang cocok dengan wayang sebagai bekal untuk bergerak maju sesuai perkembangan masyarakat. Hamemangkat atau memangkat sesuatu nilai menjadi nilai baru. Wayang dan seni pedalangan tidak akan pernah hilang dan masih exsis sampai zaman sekarang.
Ketika zaman kuno, nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, dalam kedua kepercayaan ini diyakini oleh roh yang sudah meninggal masih tetap hidup dan benda-benda yang masih mempunyai kekuatan. Roh-roh itu bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Paduan antara animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kekuasaan. Mereka terus dipuja dan meminta pertolongan kepadanya.
Selain melakukan ritual tertentu mereka mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung roh nenek moyang yang dipuja disebut “hyang” atau “dahyang”[5].
Orang-orang yang ingin berhubungan dengan para hyang untuk meminta pertolongan dan perlindungan harus melalui medium yang disebut “syaman”. Kedua ritual inilah yang menyebabkan asal muasal munculnya wayang. Hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan itu menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalang. Sedangkan ceritanya adalah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Asli yang hingga sekarang masih dipakai. Jadi, wayang itu berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia di sekitar tahun l500 SM.
Berasal dari zaman animisme dan dinamisme, wayang terus mengikuti sejarah perjalanan bangsa sampai masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Mulai bersentuhan dengan peradaban dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya. Pada masa itu wayang berkembang sangat pesat dan menjadi tradisi seni jawa yang yang sangat kental dengan bahasa jawanya.
Pertunjukan roh nenek moyang kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih menarik, Ramayana dan Mahabharata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat. Tokoh wayang yang terkenal dari zaman hindu antara lain Baratayuda, Arjuna Wiwaha, Sudamala. Pergelaran wayang yang diperkaya dengan penciptaan peraga wayang terbuat dari kulit yang dipahat, diiringi gamelan dalam tatanan pentas yang menarik dengan cerita Ramayana dan Mahabharata.  
Di zaman awal majapahit wayang digambar di kertas jawi dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian masa-masa awal abad sepuluh bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu yang membuat naiknya pamor tokoh ‘dewa’ yang kini ‘ditempatkan’ berada di atas ‘hyang’ abad duabelas sampai abad limabelas adalah masa ‘sekularisasi’ wayang tahap satu dengan mulai disusunnya berbagai mithos yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua kini pengaruh budaya Islam yang mulai meresap tanpa terasa  dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak ( 1500 – 1550 M )[6].
Raden Patah memerintahkan mengubah beberapa aturan wayang yang segera dilaksanakan oleh para wali secara gotong royong wayang Beber karya Prabangkara (zaman majapahit) segera direka ulang dibuat dari kulit kerbau di wilayah kerajaan demak masa itu.
Gambar dibuat menyamping, tangan dipanjangkan, digapit dengan penguat tanduk kerbau, dan disamping sunan Bonang menyusun struktur dramatikanya sunan Prawata menambahkan tokoh raksasa dan kera dan juga menambahkan beberapa skenario cerita. Raden Patah menambahkan tokoh gajah dan wayang prampogan sunan Kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu kini terdiri dari batang pisang, blencong, kotak wayang, dan gunungan. Sunan Kudus mendalang ‘suluk’ masih tetap dipertahankan, dan ditambah dengan greget saut dan adha-adha.
Pada masa sultan Trenggana bentuk wayang semakin dipermanis lagi mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan  (tadinya hanya digambarkan di kulit kerbau tipis) susuhunan ratu tunggal, pengganti sultan trenggana, tidak mau kalah dia ciptakan model mata liyepan dan thelengan.
Selain wayang purwa sang ratu juga memunculkan wayang gedhog yang hanya digelar di lingkungan dalam keraton saja sementara untuk konsumsi rakyat jelata sunan bonang menyusun wayang damarwulan aman kerajaan pajang memberikan ciri khas baru  wayang gedhog dan wayang kulit mulai ditatah tiga dimensi (mulai ada lekukan pada tatahan) bentuk wayang semakin ditata.
Raja dan ratu memakai mahkota/topong rambut para satria mulai ditata, memakai praba dan juga mulai ditambahkan celana dan kain di jaman ini pula lah sunan Kudus memperkenalkan wayang golek dari kayu sedang sunan Kalijaga menyusun wayang topeng dari kisah-kisah wayang gedog dengan demikian wayang gedog pun sudah mulai memasyarakat di luar keratin di masa mataram islam wayang semakin berkembang panembahan senapati menambahkan berbagai tokoh burung dan hewan hutan dan rambut wayang ditatah semakin halus sultan agung anyakrawati menambahkan unsur gerak pada wayang kulit pundak, siku, dan pergelangan wayang mulai diberi sendi posisi tangan berbentuk ‘nyempurit’ dengan adanya inovasi ini muncul pula tokoh baru seperti: cakil, tokoh raksasa bertubuh ramping yang sangat gesit dan cekatan  sultan Agung Anyakrakusuma, pengganti beliau, ikut menyumbang bentuk mata semakin diperbanyak dan pada beberapa tokoh dibuat beberapa wanda (bentuk) setelah semua selesai dilaksanakan, diciptakan seorang tokoh baru raksasa berambut merah bertaji seperti bisa disebut ‘berwenang menghakimi’? walau demikian, garis besar struktur dramatikanya agaknya relatif tetap pathet nem, pathet sanga, lalu pathet manyura relatif standar dan tetap seperti juga mengenai inti filsafatnya sendiri : “wayang adalah perlambang kehidupan kita sehari-hari”[7].
B. Kisah-kisah wayang
            Hampir seluruhnya kisah atau lakon yang didramatisasi dalam wayang berasal dari Mahabharata. Kisah Ramayana sering disebut dengan ejekan “kisah kera”. Karena menonjolkan tokoh setengah kera, anoman dan tokoh-tokoh lainnya. Di seluruh Jawa ada beberapa jenis wayang yang digolongkan menurut jenis boneka yang digunakan, dan kisah yang dipergelarkan. Dalam kisah Mahabharata ada tiga kelompok tokoh utama:
1.      Dewa-dewi para dewa dan para dewi yang dikepalai oleh Batara Guru (siwa) dan isterinya, Batari Durga, Batara Narada, Sang Hyang Brama, serta Batara Kala.
2.      Satria raja dan bangsawan kerajaan kuno, menurut anggapan “zaman Ramayana” (di India) digantikan oleh Mahabharata kemudian “zaman Budha” (yakni periode kerajaan Hindu-Budha) seperti kediri, Singosari, Majapahit.
Ada kelompok satria, yang terlibat dalam wayang meliputi:
1. Para Pandawa: lima saudara yang memerintah negara, Amarta-Yudistira-Bima-Arjuna-Nakula-dan Sadewa. Pandawa biasanya disertai oleh Krisna, raja negara tetangga Ndarawati yang merupakan penjelmaan wisnu dan penasehat umum pandawa. Dua tokoh lainnya yang tersohor adalah Gatotkaca, anak Bima, yang perkasa dan terbang, serta Angka wijaya, anak Arjuna.
2. Para Kurawa: Seratus Stria Astina, yang dipimpin oleh Sayudana, Sengkuni, Durna dan Karna, saudara seibu.
3. Punakawan, Semar, Petrok dan Gareng, pelawak rendahan, pelayan serta pengiring serta pandawa dari Jawa Semar ayah kedua punakawan lainnya.
C. Peran seni klasik dalam Pewayangan
            Kami mengambil penelitian seni di Mojokuto, ada tiga rumpun yang agak terpisah tiga kelompok seni yang bentuk komponannya tidak saja membawa hubungan intrinsik antara satu sama lain tetapi juga masuk dalam struktur sosial dan budaya.
1.      Rumpun I “Seni Alus”.
a)      Wayang, yang menggunakan kayu atau kulit untuk mendramatisasi cerita-cerita versi Jawa dari epos India. Mahabharata dan Ramayana, atau versi mitologis dari sejarah kerajaan-kerajaan Jawa sebelum masa kolonial.
b)      Gemelan, orkes tabuh yang dapat dimainkan sendiri atau mengiringi wayang atau berbagai bentuk seni lainnya.
c)      Lakon, secara harfiyah berarti “alur” atau “skenario”. Sebuah mitos yang bisa didramatisasi dalam wayang, tetapi sering hanya diceritakan secara lisan sebagaimana biasanya mitos.
d)     Joged, tarian keraton Jawa, yang bisa berdiri sendiri atau “menarikan” wayang.
2.      Rumpun II “Seni Kasar”
a)      Ludruk, lawakan rakyat melibatkan laki-laki yang mengenakan baju perempuan dan pelawak renadahan sebagai tokoh utamanya.
b)      Kledek penari perempuan jalanan, yang menari baik sebagai penari keliling “dari pintu ke pintu” maupun sebagai penari yang disewa untuk memeriahkan pesta perkawinan, khitanan dan sebagainya.
c)      Jaranan tarian rakyat, dimana para penari “menunggang” kuda kertas dan menjadi kesurupan, berbuat seolah-olah mereka itu kuda.
d)     Dongeng cerita rakyat, legenda, tabuh dan sebagainya. Perbedaan utamanya dari lakon terletak pada fakta bahwa dongeng, selalu dikisahkan secara lisan dan tak pernah didramatisasi dalam wayang.
3.      Rumpun III “Seni Nasional”
a)      Orkes, band tari populer (walaupun tak seorang pun pernah bernyanyi bersamanya) terdiri hampir seluruhnya dari instrumen petik bajo, gitar dan sebagainya.
b)      Kesusastraaan Indonesia, novel, sajak, cerita pendek dan sandiwara, modern bergaya Barat, yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa nasional.
c)      Bioskop, film Barat maupun Indonesia (melayu)[8].
D. Sifat wayang
            1. Bima atau Werkudara
Bima atau Werkudara merupakan salah satu tokoh pewayangan yang dilihat dari segi historisme telah menggunakan seni metode penyebaran gagasan-gagasan sufisme. Dalam hal ini tokoh Bima ada keterkaitan cara untuk menggali dan menikmati ajaran-ajaran sufisme dalam bingkai kebijaksanaan interpretasi subjektif. Sebab bagaimanapun kisah penokohan dalam wayang merupakan simbol yang cara memeahaminya diserahkan semuanya kepada para penonton[9].
Tokoh Bima sebagai salah satu anggota Pandawa bisa dikatakan merupakan “sang penegak”, ibarat benteng maka ia merupakan pelindung bagi seluruh keluarga Pandawa. Ini bisa dilihat dari simbol jasmaninya yang besar dan terlihat kokoh, namun tetap dingkluk (merunduk) mengisyaratkan bahwa telah terjadi keseimbangan antara jasmani dan rohaninya yang telah terciptakan oleh cahaya-cahaya spiritual yang menakjubkan[10]
2. Semar
Semar simbol kesalehan, membicarakan mengenai tokoh wayang yang salah satu ini, kita tidak terlepasa dari mewacanakan “samar” oleh dalang sendiri merupakan makna yang melekat pada tokoh ini. Dilihat dari bentuk rupa gayanya mauapun dari segi bicaranya sekaligus sikap orang-orang yang ada di sekililingnya, menunujukkan bahwa tidak mungkin kedudukannya hanya sebagai batur atau abdi kinasih saja.
Para dalang sering menyebutkan “Sosok Semar memang benar-benar sosok yang samar” karena kesamaran itu disebabakan Semar memiliki jabatan yang beraneka ragam. Di satu sisi Semar adalah guru, kiyai, atau orang yang dituakan karena memiliki kebijakan yang agung. Istilaha Helen Graham ‘merupakan homo sapiens yang hidup’, yang benar-benra mampu menggambarkan kemampuan manausia secara utuh, baik dalam berpikir ataupun dalam bertinadak, tanpa harus susah payah menggunakan pengalam, pemahaman, yang diperoleh dalam kehidupannya. Mengapa demikian, karena Semar adalah dewa mengejawantah, beratu ke dalam tubuh manusia, guna mnegendaliakn situasi, memebangun perspektif yang cerdas mengayomi masyarakat bawahan. Dalam posisisnya sebagai dewa menejawantah (abdi yang dikasishi) bagi keluarga Pandawa khususnya Prabu Arjuan dan Prabu Abi Manyu (anak dari Arjuna)[11].

3. Arjuna
Mpun Kanwa dalam kitab Arjuna Wiwana, mengibaratkan bahwa sosok Arjuna adalah pribadi yang benar-benar total dalam penghambaannya kepada gusti, sososk Arjuna juga diilustrasikan sebagai pribadi yang Insan Kamil (sempurna dalam segala bidang), karena ia berjuang seoptimal mungkin untuk mencapai kesempurnnaan hidup[12].
Arjuna (Satria Lananging Jagad) sesososk pribadi yang teguh dan senang bertapa, wajahanya tampan dan anggun. Siapa saja yang gemar berpuasa, maka ia akan menjadi kuat jiwanya dalam menghadapi berbagai cobaan dan wajah ikut berseri-seri[13]. Arjuan berparas tampan, berbudi luhur dan halus serta sederhana. Ketampanan arjuna dilukiskan dalam bentuk bagian badan yang halus, mata, bibir, dagu, telinga, bahu, lengan, perut dan kaki. Dari segi seni menggambarkan menatah dan menyungging, memebuat arjuna termasuk sukar, bentuk-bentuk sederhana tapi indah[14].
Arjuna merupakan salah satu dari tokoh pandawa lima yang diidolakan orang jawa. Pandawa lima merupakan simbolisme dari lima sifat-sifat yang dimiliki oleh pandawa yakni Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kelima tokoh tersebut melambangkan sifat aji, giri, gaya, nagga dan  priyambada, kelima sifat ini memiliki maksud:
1. Sifat Yudistira, yakni aji pengetahuan suci, artinya bijaksana dan mahir dalam segala ilmu pengetahuan, tetuma ilmu pengetahuan suci atau agama.
2. Sifat Bima, yakni aji giri, artinya kuat iman, teguh, tanguh dalam menegakkan kebenaran serta tabaha dan tegar dalam menghadapi segala kendala rintangan ataupun penderitaan.
3. Sifat Arjuna, yakni aji jaya menang, artinya dapat menundukkan musuh-musuhnya dan segala sifat-sifat buruk yang ada dalam dirinya, serta sempurna lahir batin.
4. Sifat Nakula, yakni nangga tangguh  dan tanggap dalam segala keadaan serta tahu membawa diri, sehingga tidak mudah terjerumus dalam kehancuran atau hal-hal yang merugikan.
5. Sifat Sadewa, yakni priyambada, artinya selalu memeberikan rasa kebahagiaan, ketentraman serta kedamaian lahir dan batin kepada masyarakat[15].
Di dalam pewayangan juga digambarkan keindahan dan kecantikan terhadap setiap tokoh misalnya:
1. Dewi Sambrada digambarkan sebagai seorang wanita yang mempunyai kesamaan dengan bidadari.
2. Dewi Srikandi digambarkan ibarat wanita dari bulan, suara menggema bagaikan kilat yang diatur dan berbunyi bersama-sama, kulitnya kuning bagaikan kencana.
3. Dewi Manohara digambarkan tentang kelebihan kecantikannya bagaikan lukisan yang indah,. Wajahnya bagai bunga pandan, ibarat matahari yang trtutup tipisnya awan. Bentuk lambung yang kecil rapi dan ramping bagaikan kumbang besar yang mengitari bunga. Bibirnya yang kecil, merah, bagus bagaikan buah manggis yang merekah.
4. Ratna Gandawati digambarkan berabut hitam, sinomnya tebal, berleher indah, berdada lebar kuning bagaikan kelapa gading yang masih muda. Bila ia berjalanamat pelan bagaikan teratai yang melenggang di air.
5. Dewi Ulupi liriknya digambarkan bagai teratai biru yang bersinar[16].
III. Bentuk Akulturasi Wayang Dan Islam[17].
Berikut beberapa contoh akulturasi antara kisah atau pakem pewayangan yang berdasarkan budaya Hindu-Budha yang kemudian digabungkan dengan unsur-unsur Islam:
  1. Kalimah-Syahadah diibaratkan dalam tokoh Puntadewa atau Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, karena kalimah Syahadah memang rukun Islam yang pertama. Dalam cerita wayang, sifat-sifat  Puntadewa sebagai raja (syahadat bagaikan rajanya rukun Islam) yang memiliki sikap berbudi luhur dan penuh kewibawaan. Seorang raja yang arif bijaksana, adil dalam ucapan dan perbuatan, sebagai pengejawantahan dari kalimah Syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan. Puntadewa memimpin empat saudaranya dengan penuh suka duka dan kasih sayang. Demikian pula kalimah Syahadat sebagai “rajanya” rukun Islam yang lainnya, karena biarpun seseorang menjalankan rukun Islam yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima, namun apabila tak menjalankan rukun Islam yang pertama maka semua amalannya akan sia-sia.
  2. Shalat lima waktu dipersonifikasikan dalam tokoh Bima. Dalam kisah pewayangan tokoh tersebut dikenal juga sebagai Penegak Pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja, karena memang tidak dapat duduk. Tidur dan merempun konon berdiri pula. Demikian pula shalat lima waktu selamanya harus ditegakkan. Baginya terpikul tugas penegak agama Islam dan jangan lupa sholat adalah tiang agama. Nabi Muhammad  Ṣala Allāh Alayhi wa al Salām pernah bersabda: “Shalat lima waktu adalah penegak agama Islam. Siapa-siapa yang menjalankannya berarti menegakan Islam”.
  3. Zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa yakni Arjuna. Nama Arjuna diambil dari kata “jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan simbol jiwa yang jernih. Kejernihan Arjuna memancar pada jiwa dan tubuhnya. Arjuna juga merupakan seorang pecinta seni keindahan. Perasaannya amat halus dan hangat. Karena kehalusannya, Arjuna jadi sulit mengatakan “tidak”. Karena kehalusan budi pekertinya tersebut Arjuna seolah-olah mempunyai kesan lemah. Padahal semua itu dilakukan agar tidak menyakiti hati orang lain. Selain itu dalam perang yang dijalaninya Arjuna tidak terkalahkan. Maka demikianlah, zakat sebagai rukun Islam yang ketiga, karena setiap muslim berkewajiban berzakat, mengandung inti kebijaksanaan agar setiap orang Islam untuk berjuang memperoleh rizki dan kekayaan. Dalam cerita kepahlawanan Pandawa, Bima dan Arjuna paling menonjol peranannya, satu terhadap lainnya sangat memerlukan hingga menjadi dwi-tunggal yang tidak terpisahkan. Demikian pula sholat lima waktu dan zakat merupakan dua rukun Islam yang tidak terpisahkan, selamanya berjalan seiring-sejalan.
  4. Puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula-Sadewa. Kedua tokoh ini tampil pada saat-saat tertentu saja. Demikian pula dengan puasa Ramadhan dan Haji tidak setiap hari dikerjakan. Bulan Ramadhan untuk puasa dan bulan Zulhijah, sekali dalam setahun untuk melakukan ibadah Haji. Pandawa bukanlah Pandawa tanpa si kembar Nakula dan Sadewa. Memanglah demikian, Puasa Ramadhan dan Haji lahir pada bulan tertentu, tidak demikian halnya dengan 3 rukun Islam sebelumnya, yang dilakukan setiap saat tiap hari.
IV. Nilai-Nilai Islam Terkandung Dalam Wayang.
Kedatangan agama Islam di tanah Jawa telah menimbulkan perubahan kebudayaan yang melekat pada masyarakat Jawa. Perubahan yang terjadi bukan semata-mata karena perombakan oleh dunia Islam, akan tetapi karena adanya toleransi dari Islam untuk mengakulturasikan budaya yang telah ada. Dalam Sejarah telah mengatakan bahwa akulturasi yang mendorong perkembangan Islam di Jawa adalah Wayang.
Peran yang dilakukan Walisanga adalah dalam rangka mengislamkan tanah Jawa, dalam bukunya Poerbosoebroto yang berjudul “Wayang Lambang Ajaran Islam” banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan maksud Walisanga tadi. Oleh Walisanga, wayang diubah menjadi media dakwah Islam. Akidah Islam disiarakan melalui mitologi Hindhu. Hal-hal yang berkaitan dengan  dewa (hyang Sang Hyang) yang menjadi sesembahan masyarakat waktu itu, dikait-kaitkan dengan cerita nabi. Mitologi Hindhu berpegang pada dewa sebagai sesembahannya. Karena itu, Walisanga memadukan cerita-cerita silsilah wayang yang diganti dengan silsilah Nabi. Cerita silsilah wayang digarap dan diurutkan keatas sampai pada nabi Adam. Metode dakwah Walisanga lewat mitologi Hindu, sangat tepat dengan kontek budaya masyarakat Jawa waktu itu (abad 15). Untuk menyiarkan akidah Islam, Walisanga memlilih cara atau metode Islamisasi Jawa disebut ‘de dewanisasi’ cerita (lebih tepatnya de-sakralisasi Dewa / Tuhan Hindu). Cerita yang berhubungan dengan dewa-dewa diubah supaya akidah Islam bisa masuk dalam hati sanubari masyarakat. Hal ini dilakukan karena adanya dorongan untuk menyebarkan Islam di jawa secara halus dan tidak terkesan memaksa. Perkembangan yang terjadi sampai sekarang ini masih tersisa bahwa perjuangan para Walisanga telah mengilhami ketolerensian agama Islam dengan budaya setempat.
V.Tujuan Akulturasi Islam dengan Kesenian Wayang
Kesenian wayang kulit telah mendarah daging pada masyarakat Indonesia (khususnya Jawa dan Bali) sehingga sulit untuk menghilangkan dan menggantinya dengan kebudayaan Islam. Karena kesulitan untuk menghilangkan sesuatu yang telah melekat di dalam hati, maka para Wali Sanga tidak kehilangan akal. Agar dakwah yang mereka lakukan berjalan lancar, maka salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan cara memasukkan ajaran Islam ke dalam pertunjukan wayang kulit.
Sunan Kalijaga mementaskan Wayang kulit dengan cerita dan dialog sekitar Tasawuf dan Akhlaqul Karimah, untuk melemahkan masyarakat yang pada waktu itu beragama Hindu dan Budha yang ajarannya berpusat pada kebatinan. Pada masa itu saat Majapahit masih cukup berkuasa, Sunan Kalijaga berusaha memasukan unsur-unsur Islam yang kompleks dalam kisah pewayangan yang sudah mendarah daging di kalangan penduduk Majapahit. Dengan melakonkan cerita Mahabarata, para mubaligh dapat memasukkan unsur-unsur sendi kepercayaan atau aqidah, ibadah dan juga Akhlaqul Karimah. Sehingga pada masa itu wayang dijadikan sebuah alat metode dakwah Islam oleh para wali dan mubaligh dengan tujuan supaya pengikut agama Islam bertambah banyak khususnya di wilayah Jawa.
VI. Kesimpulan
Wayang merupakan kesenian  tradisional suku Jawa yang berasal dari agama Hindu India. Pada masa itu nenek moyang masih meyakini adanya roh-roh yang bersemayan di batu, gunung, dan kayu yang besar yang mereka sebut Sang dan Hyang, mereka puja dan disembah. Kayu. Wayang berasal dari cerita Ramayana dan Mahabarata dan menjadi pertunjukkan dan tontonan, namun seiring dengan beiringan masuknya Islam ke Jawa, sebagai bentuk dakwah Islam di Jawa wayang menjadi salah satu bentuk akulturasinya.
            Bentuk akulturasinya pada tokoh puntadewa, bima, arjuna, nakula-sadewa, dan yang lain. Nilai pergelaran wayang diisyaratkan dengan nilai-nilai islam oleh para walisanga. Adapun beberapa bentuk akulturasi Islam dengan kesenian wayang diantaranya; Kalimah-Syahadah dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, shalat lima waktu dipersonifikasikan dalam tokoh Bima, zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa yakni Arjuna. puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula-Sadewa.
            Akulturasi yang dilakukan oleh walisanga dalam pagelaran wayang di daerah Jawa tidak lepas dari misi dakwah yang diemban oleh Sunan Kalijaga, dengan melihat realitas sosial pada saat itu yang menunjukan kentalnya kesenian wayang dalam kehidupan masyarakat, mendorong sunan Kalijaga untuk menjadikan wayang sebagai salah satu metode dalam dakwahnya, yaitu dengan memasukan ajaran-ajaran maupun nilai-nilai Islam seperti aqidah, akhlak, dan ritual-ritual peribadatan dalam Islam.
           

Daftar Pustaka
Geertz, Clifford. “Agama Jawa, Abangan, Priyayi, dalam Kebudayaan Jawa”. Depok: Komunitas Bambu, 2014.
Haq, Zaairul. “Ajaran Makrifat Penuntun Jiwa yang Jawa”. Bantul: Kreasi Wacana, 2013.
                Hariwijaya, M. “Islam Kejawe”.Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2006.
Susantio, Djulianto. https://hurahura.wordpress.com/2012/02/24/ sejarah-wayang-di-indonesia/html.
Susetyo,Wawan. “Bharatayuda Ajaran Simbolisasi Filosofi dan Maknanay dalam Kehidupan Sehari-hari”. Bantul: Kreasi Wacana, 2007.
                Zarkasi, Efendy. 1977:91.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 2005.
                        Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
http://supraba15.blogspot.com/2013/04/sejarah-asal-usul-wayang.html







[1]  Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 2005), hal. 1010
[2]  Djulianto Susantio, https://hurahura.wordpress.com/2012/02/24/ sejarah-wayang-di-indonesia/html. (diakses pada: 24 Maret 2015).
[3]  Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 214
[4]  http://supraba15.blogspot.com/2013/04/sejarah-asal-usul-wayang.html. (diakses pada: 24 Maret 2015).
[5]  http://supraba15.blogspot.com/2013/04/sejarah-asal-usul-wayang.html, diakses pada 24 Maret 2015.

[6]  sejarah pewayangan https://jun8807200133.wordpress.com/sejarah-pewayangan-di-indonesia/. (Diakses pada 25 Maret 2015)
[8]  Clifford Geertz, Agama Jawa, Abangan, Priyayi, dalam Kebudayaan Jawa. (Depok: Komunitas Bambu, 2014) Hal 375-376.
[9]  Zaairul Haq, Ajaran Makrifat Penuntun Jiwa yang Jawa, ( Bantul: Kreasi Wacana, 2013), hal: 79.
[10]  .,ibid 80.
[11]  .,ibid 146.
[12]  Wawan Susetyo, Bharatayuda Ajaran Simbolisasi Filosofi dan Maknanay dalam Kehidupan Sehari-hari, (Bantul: Kreasi Wacana, 2007) 118.
[13]  Efendy Zarkasi, 1977:91.
[14]  M. Hariwijaya, Islam Kejawen, (Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2006.) 139.
[15]  M. Hariwijaya, Islam Kejawen, 142.
[16]  .,ibid 141.
Ragam Info 8521928754645151103

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Popular Posts

Twitter

Random Posts

Jasa Pembuatan Makalah

Flickr Photo

Recent Comments